Ilustrasi foto: selat hormuz dan kapal tanker Pertamina Gas Dahlia milik PT Pertamina International Shipping/Dok. Pertamina International Shipping[/caption]
Ancaman Proksi dan Batas Kekuatan Armada
Di balik layar diplomatik, ada faktor lain yang memaksa Washington untuk melunak: gertakan Garda Revolusi Iran (IRGC). Ancaman Iran untuk mengaktifkan proksi mereka hingga ke Laut Merah bukanlah isapan jempol. AS menyadari bahwa meskipun mereka memiliki keunggulan alutsista di permukaan, perang asimetris yang melibatkan ranjau laut dan serangan drone proksi di jalur perdagangan vital akan memicu lonjakan harga minyak yang tak terkendali.
Keputusan membuka Hormuz menunjukkan bahwa di era sekarang, dominasi militer memiliki batas yang nyata saat berhadapan dengan ketergantungan energi dunia. Amerika mungkin bisa memenangkan duel cepat di perairan, namun mereka tampaknya belum siap untuk permainan ketahanan (endurance game) yang melelahkan melawan jaringan proksi dan tekanan ekonomi dari kekuatan besar lainnya.
Kesimpulan: Diplomasi Tanpa Pemenang Mutlak
Langkah Trump dalam 48 jam terakhir ini adalah contoh nyata dari diplomasi transaksional yang berisiko tinggi. Trump berhasil menghindari konfrontasi langsung dengan China, menjaga peluang sukses kunjungannya di bulan Mei, namun di saat yang sama, ia memberikan ruang bernapas bagi Iran.
Hormuz memang dibuka, namun ketegangan di bawah permukaannya tetap mendidih. Dunia kini melihat bahwa hukum internasional seringkali menjadi nomor dua setelah kesepakatan di balik layar. Pada akhirnya, yang terjadi di Selat Hormuz bukan lagi soal siapa yang paling kuat secara militer, melainkan siapa yang paling cerdik dalam memanfaatkan ketergantungan global untuk kepentingan domestik masing-masing.
Informasi ini di olah dari sumber: Kompas - Mau Buka Selat Hormuz untuk China, Trump: Xi Jinping Akan Peluk Saya